Saturday, November 3, 2012

Apakah Anda Kecanduan Internet?

Semakin masuknya internet dalam kehidupan kita menyebabkan kadang kita tidak sadar apakah intensitas penggunaan internet masih wajar atau sudah melebihi takaran. Ya memang tidak ada takaran baku tentang penggunaan internet yang normal sih namun saya yakin secara common sense tubuh kita pun bisa memberikan tanda-tanda jika kelihatannya kita sudah terlalu banyak menggunakan internet namun apakah kita mesti menunggu sampai kecanduan dahulu baru bisa mengetahuinya? Saya pikir tidak ya karena sekarang mulai banyak kajian-kajian dan pusat bantuan untuk mengatasi problem kecanduan internet ini. Ya, ternyata banyak yang sudah memasuki fase "masalah" dalam kecenderungan kecanduan dalam menggunakan internet ini.

Pada beberapa tahun yang silam saya pernah menulis blogpost tentang ciri-ciri seseorang bila ia terkena kecanduan internet, pada saat itu kasus ini masih sedikit diangkat ke permukaan, kini banyak artikel-artikel dan juga halaman wikipedia yang khusus membahas masalah kecanduan internet ini.

Bagaimana Anda mengetahui jika Anda kecanduan internet atau bahkan mulai muncul masalah-masalah yang diakibatkan olehnya? Kini ada situs yang menawarkan sebuah tes yang bisa menunjukkan apakah Anda kecanduan internet atau tidak yang merupakan bagian dari organisasi khusus kecanduan internet bernama Netaddiction.

Pada saat saya menulis blogpost tentang ciri-ciri seseorang bila kecanduan internet saya pikir isue tersebut belumlah sebesar sekarang, namun kini seperti yang dipaparkan oleh artikel di Forbes ini, mereka menyebut kasus kecanduan internet ini sebagai Internet Addiction Is The New Mental Health Disorder. Dalam artikel lainnya juga disebutkan bahwa kecanduan internet bisa dilihat pada adanya perubahan pada otak (masih diperdebatkan apakah kecanduan internet penyebabnya ataupun justru hasil dari kelainan tersebut).

Lalu bagaimana menyikapinya? Tentunya kita harus tahu dahulu tanda-tanda dan simptomnya sebelum masuk ke fase penyembuhan. Berdasarkan panduan yang saya dapatkan dari Helpguide.org, kecanduan internet bisa dibagi dalam beberapa kategori, yaitu:
  • Kecanduan Cybersex: Dorongan untuk menggunakan internet sebagai penyaluran hasrat seksual, seperti misalnya melihat situs-situs pornografi, masuk secara regular ke chatroom khusus dewasa, masuk ke situs-situs penyedia role-play. Dan itu semua berpengaruh secara negatif pada hubungan intim di dunia nyata.
  • Kecanduan Cyber-Relationship: Ini bisa digambarkan dengan bagaimana seseorang tidak bisa lepas dari aktivitas di jaringan sosial (social networking), chatroom, dan messaging yang pada satu titik mereka menganggapnya jauh lebih penting dibandingkan dengan hubungan pada keluarga dan teman-teman di dunia nyata.
  • Net Compulsions: Ini bisa dicontohkan dengan dorongan bermain online gaming yang begitu tinggi, jual-beli saham online, dorongan menggunakan situs-situs lelang online seperti EBay, yang kesemuanya berpengaruh pada kondisi finansial dan juga kondisi kerja.
Anda berpeluang memiliki resiko tinggi mengidap kecanduan internet jika:
  • Anda penderita kecemasan (anxiety): Anda mungkin menggunakan internet untuk mengalihkan perhatian Anda terhadap kekhawatiran-kekhawatiran yang muncul di kepala Anda. Seperti penderita obsessive-compulsive disorder, penderita kecemasan pun juga bisa mengakibat perilaku berlebihan pada saat memeriksa email yang masuk dan juga penggunaan internet.
  • Anda penderita depresi: Internet mungkin bisa jadi pelarian dari perasaan depresi yang Anda derita, namun penggunaan internet berlebihan pun bisa memperburuk situasi. Perasaan kesepian, terisolasi dantambahan tekanan stress justru muncul diakibatkan oleh kecanduan internet tersebut.
  • Anda penderita kecanduan hal-hal lainnya: Pada tingkatan tertentu banyak penderita kecanduan internet memiliki kecanduan-kecanduan lain seperti narkoba, alkohol, gambling, dan sex.
  • Anda memiliki kelemahan dalam bersosialisasi: Penderita kecanduan internet biasanya menggunakan situs-situs jejaring sosial, instant messaging, atau online gaming sebagai cara yang menurut mereka aman untuk menjalin hubungan baru.
  • Anda adalah remaja yang kurang bahagia: Dengan menggunakan internet mereka berfikir bisa memposisikan diri mereka pada tempat yang nyaman bagi mereka.
  • Anda adalah seseorang yang mobilitasnya terbatasi: Misalnya mungkin Anda memasuki sebuah situasi seperti menjadi orang tua baru bagi anak bayi, sehingga Anda cenderung mengalihkan aktivitas Anda ke dunia internet.
  • Anda penderita stress: Ketika banyak orang menyangka menggunakan internet bisa mengurangi tingkat stress namun sebenarnya yang terjadi justru efek kontraproduktif. Makin lama Anda menggunakan internet maka makin tinggi level stress yang akan Anda rasakan.
Lalu apa tanda-tanda yang menunjukkan jika Anda mulai kecanduan internet?:
  • Sering lupa waktu dalam menggunakan internet: Apakah Anda sering mendapati menggunakan internet lebih lama dari apa yang Anda niatkan? Apakah niat menggunakan internet beberapa menit berubah jadi beberapa jam? Lalu apakah Anda merasa kesal jika saat menggunakan internet ada yang mengganggu?
  • Memiliki masalah dalam menyelesaikan pekerjaan di rumah dan kantor: Apakah banyak cucian yang belum dicuci lalu persediaan makanan di kulkas kosong karena Anda sibuk online? Atau mungkin Anda sering pulang malam karena tidak bisa menyelesaikan pekerjaan tepat waktu? Atau justru tinggal lebih lama di kantor setelah rekan-rekan Anda pulang agar bisa menggunakan internet secara bebas?
  • Terisolasi dari keluarga dan teman: Apakah kehidupan sosial Anda terganggu karena Anda lebih sering menghabiskan waktu online? Apakah Anda mengabaikan keluarga dan teman-teman Anda? Apakah Anda merasa tidak ada teman-teman ataupun keluarga yang bisa mengerti Anda dibandingkan dengan teman-teman online Anda?
  • Merasa bersalah atau defensif tentang penggunaan internet Anda: Apakah Anda merasa lelah menghadapi sikap pasangan Anda untuk menghentikan aktivitas Anda di internet dan menghabiskan waktu lebih banyak dengan mereka? Apakah Anda menyenmbunyikan jumlah pemakaian internet Anda terhadap atasan dan keluarga serta apa saja yang Anda lakukan di internet?
  • Merasakan euforia ketika terlibat dalam kegiatan di internet: Apakah Anda menggunakan internet sebagai sarana ekspresi pada saat Anda stress, sedih, puas atau excite? Apakah Anda pernah mencoba batas kemampuan Anda berinternet namun gagal?
Bila salah satu poin di atas sudah mulai terjadi pada Anda maka mungkin sudah seharusnya Anda mulai waspada.

Friday, November 2, 2012

If You Have Willpower Then Everything Is Possible

This film is based on a true story. In 1986 a football team that lived on a little island in the south of Thailand called “Koh Panyee”. It’s a floating village in the middle of the sea that has not an inch of soil. The kids here loved to watch football but had nowhere to play or practice. But they didn’t let that stop them. They challenged the norm and have become a great inspiration for new generations on the island.

 

Thursday, November 1, 2012

Viral




Ini sudah memasuki minggu ketiga kata Viral merasuki pikiran saya, bukan karena anak saya, Evan baru saja berangsur-angsur sembuh dari diare yang tadinya diperkirakan terkena virus (yang ternyata salah, yang benar adalah amuba), namun karena ini bisa saya katakan efek dari rasa penasaran saya terhadap bagaimana sebuah ide/pemikiran yang bisa ditularkan dan disebarkan secara cepat ke banyak orang.

Sebuah ide bisa disebarkan dengan cepat karena memiliki ‘hook’ yang cukup kuat yang membuatnya tidak hanya menempel di kepala yang mendapatkannya namun bahkan mendorong keinginan untuk membagikannya ke jaringan yang mereka miliki. Lalu apakah ‘hook’ itu? Nah saya menyebut hook tersebut sebagai the heart of viral.

Saat ini saya sedang senang untuk nonton video-video viral ataupun sample cases sekaligus juga mempelajari apa yang membuatnya jadi viral, nanti kalau sudah ada fakta-fakta unik atau bahkan kesimpulan akan saya share di sini. Pada saat ini saya juga ingin tahu apa menurut kalian pengertian dari Viral tersebut? Care to share? I’ll be happy to read and discuss with you :-)

Tuesday, October 16, 2012

Apa Pengertian E-Commerce Bagi Anda?

Ada pengalaman menarik ketika saya bertemu dengan salah satu klien saya, maaf saya tidak bisa menyebutkan namanya tapi yang pasti klien saya adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang distribusi perlengkapan bayi yang baru saja ingin masuk ke pasar Indonesia. Untuk masuk ke pasar Indonesia yang sudah dibanjiri banyak barang-barang produksi  China sudah sewajarnya investasi yang dilakukan harus benar-benar efisien, oleh karena itu usulan pertama yang saya ajukan adalah masuk kedunia e-commerce lalu berfokus pada online store/distibution dalam waktu paling sedikit 1 tahun, sambil menjalankan strategi online marketing yang konsisten dan taktis. Dari hasil bincang-bincang awal dengan mereka saya dengan perlahan sadar bahwa walaupun iklim ber e-commerce di Indonesia ini berkembang cukup pesat namun pengertian tentang e-commerce di Indonesia ini cukup berbeda-beda sampai kadang agak bikin rancu terutama bagi calon pelaku, contohnya ya klien saya ini. Mereka berpendapat bahwa investasi untuk melakukan e-commerce itu sangatlah besar dan agak mubazir karena di sini sudah banyak situs-situs e-commerce. Begitu saya tanyakan tentang apa yang mereka tahu tentang e-commerce, lalu mereka menjelaskan bahwa e-commerce adalah bisnis online yang dilakukan oleh situs-situs seperti Ebay, Multiply, Tokobagus, Blibli, dan lain sebagainya, dan saya langsung sadar bahwa definisi dari e-commerce ternyata masih beragam dan kadang jadi kontraproduktif bagi perkembangan sebuah perusahaan yang justru punya potensi berkembang yang baik jika memanfaatkan e-commerce. Apa sih sebenarnya pengertian e-commerce menurut Anda? Definisi berdasarkan Wikipedia, e-commerce adalah:
'Electronic commerce', commonly known as 'e-commerce' or 'e-comm', is the buying and selling of product or service over electronic systems such as the Internet and other computer networks. Electronic commerce draws on such technologies as electronic funds transfer, supply chain management, Internet marketing, online transaction processing, electronic data interchange (EDI), inventory management systems, and automated data collection systems. Modern electronic commerce typically uses the World Wide Web at least at one point in the transaction's life-cycle, although it may encompass a wider range of technologies such as e-mail, mobile devices and telephones as well. Electronic commerce is generally considered to be the sales aspect of e-business. It also consists of the exchange of data to facilitate the financing and payment aspects of business transactions. E-commerce can be divided into:
  • E-tailing or "virtual storefronts" on Web sites with online catalogs, sometimes gathered into a "virtual mall"
  • The gathering and use of demographic data through Web contacts
  • Electronic Data Interchange (EDI), the business-to-business exchange of data
  • E-mail and fax and their use as media for reaching prospects and established customers (for example, with newsletters)
  • Business-to-business buying and selling
  • The security of business transactions
Saking penasarannya saya menyempatkan diri untuk bertanya di komunitas pelaku social media yang tergabung dalam Social Media Strategist Club di Facebook tentang pengertian dari e-commerce tersebut, dan dari hasil diskusi didapat tambahan definisi lainnya lagi. Well dari sekian banyak definisi yang saya dapatkan saya lebih suka menggunakan definisi yang sederhana dan mudah dimengerti oleh masyarakat luas tanpa membuat mereka jadi merasa jeri dan merasa e-commerce terlalu besar buat mereka seperti reaksi awal klien saya diatas), buat saya sendiri e-commerce adalah sebuah sistem bisnis jual-beli yang menggunakan perangkat elektronik untuk mempermudah terjadinya transaksi. Dengan definisi ini maka seseorang dengan hanya menggunakan perangkat Blackberry Messenger Group lalu melakukan aktivitas jual beli akan masuk dalam kategori e-commerce juga dan tentunya sampai pada situs-situs B2B yang memiliki perangkat transaksi yang kompleks ya. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda punya pengertian sendiri tentang e-commerce?

Sunday, October 14, 2012

KPI paska Jumlah Followers

Pada mulanya


Hampir semua pelaku social media terutama yang memang menjadikannya sebagai profesi pernah mengalami klien ataupun atasan mereka menjadikan jumlah pengikut (follower ataupun likes/fans) sebagai Key Performance Indicator (KPI) mereka. Dalam diskusi-diskusi yang berlangsung di Social Media Strategist Club yang saya ikuti, beberapa teman-teman social media strategist berpendapat bahwa tidak ada salahnya menjadikan jumlah follower/like (kuantitas) sebagai KPI asalkan klien ataupun atasan kita tahu apa yang sebenarnya didapat dari "perlombaan" fokus pada kuantitas tersebut. Berdasarkan hasil pengumpulan data kasar dari hasil ngobrol-ngobrol saya dengan brand ataupun klien setidaknya ada dua faktor yang jadi penyebab yaitu:
  1. Psikologis Narsis: Para klien/brand memperlakukan brand/layanan/perusahaan mereka seperti layaknya seorang rockstar dimana jumlah (kuantitas) fans menentukan popularitas mereka dibandingkan dengan pesaing mereka, sehingga akan muncul pernyataan-pernyataan "Lho kok followers brand kita cuman segitu? Followersnya brand B (pesaing mereka) bisa mencapai jumlah (sekian) lho" atau yang juga sering terjadi "Pokoknya kami tidak mau tahu, bulan depan followers kami harus bisa lebih banyak dari followersnya brand B ya! Gak tahu gimana caranya!"
  2. "Bahasa" yang mereka mengerti: Selain ketidak mengertian atas apa yang bisa diambil dari konsekuensi masuknya sebuah brand/perusahaan ke social media, mereka pun terbiasa menghitung KPI dari sesuatu yang bisa dihitung, dan angka (numbers) merupakan parameter yang paling mudah/terlihat jika kita ingin mengukur pencapaian dari sebuah aktivitas social media.
Lalu apa yang terjadi ketika kuantitas mereka jadikan KPI untuk para pelaku social media? Ya usaha-usaha pemenuhan akan dilakukan, dan kembali mereka mendapati kenyataan bahwa banyaknya jumlah followers/likes (kuantitas) itu tidak serta merta akan berpengaruh pada loyalitas pengguna. Aktivitas-aktivitas yang menggunakan hadiah hanya akan memngundang pemburu hadiah yang hanya loyal terhadap hadiah-hadiah yang diberikan bukan pada layanan ataupun produk yang justru menjadi target. Munculnya kebutuhan akan mencapai target kuantitas sebagai KPI pun menjadikan para oportunis "mengakali permainan" dengan membangun followers farm dimana para follower hasil semaian mereka akan dengan diarahkan untuk memfollow/likes brand/perusahaan Anda dengan tarif tertentu. Sehingga kebutuhan KPI terpenuhi. Namun angka-angka pencapaian KPI tersebut hanya akan jadi angka saja jika kita menggunakan shortcut ini, karena followers/likes ini hanya angka yang tidak bisa dikonversikan jadi apapun. Tidak terjadi konversi pada awareness ataupun bahkan sales, jadi bila ini yang terjadi ya sama saja dengan Anda membuang investasi Anda dengan percuma. Seperti yang sudah diprediksikan, usaha jual-beli followers/likes ini akhirnya menyeruak ke permukaan dan membuat perkembangan yang cukup menggembirakan bagi tingkat pengetahuan para klien/brand. Mereka akhirnya sudah mulai tidak lagi memfokuskan diri pada kuantitas. Mereka mulai ingin pencapaian-pencapaian kuantitas tersebut juga dibarengi oleh naiknya tingkat awareness, loyalitas dan bahkan sales. Ini menandai masuknya babak baru dalam target pencapaian dari sebuah aktivitas social media.

Percakapan sebagai medium konversi


Bagi para pengelola Facebook Page, Insight adalah internal metriks yang biasanya digunakan untuk memonitor target-target pencapaian pada Facebook Page kita. Bila Anda perhatikan Facebook Page Insight kini diperlengkapi oleh fitur pengukuran yang sifatnya lebih kualitatif dibandingkan pencapaian jumlah users baru (unique users). nama fitur ini adalah Reach dan Talking About This. Dari penjelasan salah satu teman saya, seorang Digital Strategist, mas Chandra Marsono maka yang bisa kita dapatkan dari kedua fitur insight tersebut adalah:
  • Reach: Angka yang menunjukkan seberapa jauh message yang kita distribusikan mencapai para Facebook users. Dengan bahasa yang lebih sederhana bisa disebutkan jika yang meLike Anda para users yang memiliki friends banyak maka angka Reach nya akan tinggi, begitu sebaliknya. Sehingga jika perbedaan jumlah Likes Anda dengan Reach Anda cukup signifikan artinya akun-akun yang meLikes Facebook Page Anda bisa banyak ataupun sedikit tergantung besar perbedaannya.
  • Talking About This: Angka yang menunjukkan interaksi yang terjadi pada message yang Anda distribusikan. Ini bisa berarti jumlah comment, jumlah likes pada posting ataupun jumlah thumbs-up. Total dari keseluruhan akan ditunjukan oleh angka pada Talking About This.
Parameter yang dimiliki oleh Facebook ini menjadikan para pengguna bisa mengukur kualitas dari engagement yang terjadi sehingga kuantitas yang sudah terbukti bisa diakali tidak jadi parameter tunggal penentu KPI lagi. Pengukuran mulai bergeser ke arah yang lebih esensial ketimbang pengukuran semu jumlah follower/likes yang memang susah untuk dipertanggung jawabkan. Percakapan sebagai medium engagement sedikit demi sedikit mulai mengambil alih fungsi konversi (awareness dan juga penjualan) yang sebenarnya. Dan akhirnya memang akan kembali pada pengelolaan komunitas (community management) dimana creating evangelist/loyalist akan jadi target yang sebenarnya. Bagaimana menurut Anda?

(sumber foto) *Tulisan ini juga bisa dibaca di kolom Dailysocial saya

Thursday, October 11, 2012

Kita Semua Memimpikan Indonesia Yang Damai

Indonesia adalah negara tempat kita tinggal. Tanah yang kaya dengan bangsa yang memiliki sejarah panjang. Peristiwa demi peristiwa, baik maupun buruk ikut mendewasakan bangsa kita, dan dalam hati kecil seluruh warga menginginkan Indonesia menjadi Indonesia yang damai seperti yang ditunjukkan dalam video di bawah ini.

Sunday, September 16, 2012

Kekuatan Obrolan Ringan Pada Social Media

Bila kita berbicara mengenai media pers di dunia social media maka yang sering kita dapatkan adalah perpindahan kanal distribusi dari jalur umum (baca website) ke jalur social media. Yang saya maksud dengan kanal distribusi adalah mereka memperlakukan jalur tersebut hanya sebagai media penyampaian tanpa mempedulikan kemampuan engagement yang bisa dibangun pada social media yang mereka pergunakan, sehingga yang terjadi jika kita memfollow/subscribe sebuah social media dari media pers, timeline kita akan dibanjiri informasi-informasi atau link-link menuju sumber informasi. Ya dalam sudut pandang pengguna/pembaca situasi seperti ini memang diharapkan karena kita istilahnya sengaja "berlangganan" untuk mendapatkan berita-berita tersebut. Namun dari sudut pandang pemilik media saya pikir sangatlah sayang menggunakan social media hanya sebatas jalur distribusi dimana sebenarnya social media bisa dimanfaatkan untuk membangun loyalty dengan membina engagement pada para pembaca tersebut. Terus terang saja saya melihat belum banyak yang berfikir kearah itu.

Saya jadi ingat ketika seusai sebuah presentasi tentang social media, saya berkesempatan ngobrol-ngobrol dengan mas Iskandar Zulkarnaen, pengelola jaringan blog Kompasiana yang kita semua tahu bernaung dibawah Kompas, sebuah harian nasional terbesar di tanah air. Beliau mengungkapkan bahwa memang di Kompas kebijakannya tidak dibenarkan untuk menggunakan jalur social media untuk do engagement, karena peruntukannya memang perpanjangan tangan jalur distribusi. Ini dengan pemahaman bahwa orang yang memfollow/subscribe jalur social media Kompas adalah orang-orang yang ingin mendapatkan informasi dari Kompas itu sendiri. Sehingga tidak dibenarkan pengelola menyapa/mengajak ngobrol follower/subscriber. Begitulah kebijakan Kompas yang saya dapatkan dari ngobrol-ngobrol dengan mas Iskandar.

Apakah kebijakan yang dilakukan Kompas salah? Well, tidak ada istilah benar atau salah dalam menjalankan kebijakan apapun. Social media adalah seperti selembar kertas putih yang siap jadi apapun ketika tinta/cat ditorehkan diatasnya tergantung dari hasil seperti apa yang ingin dicapai. Bagi media sebesar Kompas mereka menggunakan social media sebagai perpanjangan tangan distribusi, namun media-media lain barangkali ingin juga membangun loyalitas terhadap media mereka. Tentunya pendekatannya berbeda.

Pada saat saya diberi wewenang untuk mengelola social media Yahoo! Indonesia kebijakan yang berlaku adalah memperkuat loyalitas para pembaca sehingga mereka bisa merasa berita-berita yang bisa mereka konsumsi cukup banyak. Maklumlah Yahoo! tidak memiliki berita-berita yang mereka produksi sendiri pada saat itu, sehingga kelebihan kami adalah keragaman sudut pandang berita yang kami dapatkan dari melisensi berita-berita dari media lainnya dan dikumpulkan di website/portal berita kami. Selain itu kamipun selain menjadikan kanal-kanal social media kami sebagai perpanjangan tangan dari berita-berita, kami juga pada saat itu menjadikannya sebagai media untuk membangun loyalitas dengan cara memberikan image bahwa dibelakang setiap akun-akun resmi Yahoo! ada manusia yang bisa berkomunikasi layaknya manusia biasa (bukan robot pendistribusi berita), sehingga konsekuensinya tidak hanya berita-berita yang kami distribusikan namun juga obrolan-obrolan ringan, trivia, sampai dengan diskusi-diskusi berbasis artikel yang ada pada Yahoo!. Cara ini ternyata ampuh untuk menaikkan returning visitor yang tidak hanya berkunjung tapi memberikan komen dan ikutan berdiskusi.

Diawal Agustus 2012, pada saat saya diminta untuk membantu membenahi pengelolaan social media di The Jakarta Post Digital, saya pun menerapkan pendekatan yang sama seperti yang kami lakukan di Yahoo!. Walaupun masih baru tapi perubahan sudah mulai terlihat. Jika Anda mengunjungi Facebook Pagenya The Jakarta Post Digital maka jumlah komen yang masuk serta jumlah "like" juga sudah mulai naik prosentasenya.

Bagi media besar seperti The Jakarta Post tentunya memiliki standard yang cukup tinggi sehingga diawal-awal pada masa percobaan banyak kritik-kritik pedas sampai dengan cercaan yang juga saya terima ketika ada hal-hal yang kurang cocok bagi para pembaca maupun jurnalis yang bekerja di sana. Ya itu adalah proses, dan jika Anda lihat screen capture dibawah ini sebagai contoh yang saya ambil dari salah satu status wall yang ada di Facebook Page nya The Jakarta Post Digital maka Anda bisa lihat bagaimana para pembaca merespons ajakan berinteraksi yang dimulai dari pengelola social media The Jakarta Post.




Steve Krug dalam bukunya yang berjudul Don't Make Me Think menjelaskan betapa pengguna web cenderung melakukan hal-hal dengan lancar di internet jika tidak ditambahi beban pada saat melakukannya. Ini yang menyebabkan orang banyak merespons hal-hal remeh-temeh, komen-komen yang kelihatannya tidak penting dibandingkan terjun langsung untuk berdiskusi. Namun dilain pihak sebagai entry-point untuk masuk ke nilai-nilai engagement yang lebih dalam obrolan ringan ini memiliki kekuatan yang seringkali dianggap remeh. Banyak yang lupa bahwa social media bisa sedemikian populernya di negara kita karena bangsa kita suka sekali ngobrol, sehingga media-media yang bisa memfasilitasi aktivitas ngobrol tersebut akan punya kans jadi populer. Ingat ngobrol adalah entry-point dari aktivitas yang lebih serius, diskusi. Dengan ngobrol kita bisa lebih mengenal satu sama lain sebelum akhirnya naik ke level diskusi.