Bila kita berbicara mengenai media pers di dunia social media maka yang sering kita dapatkan adalah perpindahan kanal distribusi dari jalur umum (baca website) ke jalur social media. Yang saya maksud dengan kanal distribusi adalah mereka memperlakukan jalur tersebut hanya sebagai media penyampaian tanpa mempedulikan kemampuan engagement yang bisa dibangun pada social media yang mereka pergunakan, sehingga yang terjadi jika kita memfollow/subscribe sebuah social media dari media pers, timeline kita akan dibanjiri informasi-informasi atau link-link menuju sumber informasi. Ya dalam sudut pandang pengguna/pembaca situasi seperti ini memang diharapkan karena kita istilahnya sengaja "berlangganan" untuk mendapatkan berita-berita tersebut. Namun dari sudut pandang pemilik media saya pikir sangatlah sayang menggunakan social media hanya sebatas jalur distribusi dimana sebenarnya social media bisa dimanfaatkan untuk membangun loyalty dengan membina engagement pada para pembaca tersebut. Terus terang saja saya melihat belum banyak yang berfikir kearah itu.
Saya jadi ingat ketika seusai sebuah presentasi tentang social media, saya berkesempatan ngobrol-ngobrol dengan mas Iskandar Zulkarnaen, pengelola jaringan blog Kompasiana yang kita semua tahu bernaung dibawah Kompas, sebuah harian nasional terbesar di tanah air. Beliau mengungkapkan bahwa memang di Kompas kebijakannya tidak dibenarkan untuk menggunakan jalur social media untuk do engagement, karena peruntukannya memang perpanjangan tangan jalur distribusi. Ini dengan pemahaman bahwa orang yang memfollow/subscribe jalur social media Kompas adalah orang-orang yang ingin mendapatkan informasi dari Kompas itu sendiri. Sehingga tidak dibenarkan pengelola menyapa/mengajak ngobrol follower/subscriber. Begitulah kebijakan Kompas yang saya dapatkan dari ngobrol-ngobrol dengan mas Iskandar.
Apakah kebijakan yang dilakukan Kompas salah? Well, tidak ada istilah benar atau salah dalam menjalankan kebijakan apapun. Social media adalah seperti selembar kertas putih yang siap jadi apapun ketika tinta/cat ditorehkan diatasnya tergantung dari hasil seperti apa yang ingin dicapai. Bagi media sebesar Kompas mereka menggunakan social media sebagai perpanjangan tangan distribusi, namun media-media lain barangkali ingin juga membangun loyalitas terhadap media mereka. Tentunya pendekatannya berbeda.
Pada saat saya diberi wewenang untuk mengelola social media Yahoo! Indonesia kebijakan yang berlaku adalah memperkuat loyalitas para pembaca sehingga mereka bisa merasa berita-berita yang bisa mereka konsumsi cukup banyak. Maklumlah Yahoo! tidak memiliki berita-berita yang mereka produksi sendiri pada saat itu, sehingga kelebihan kami adalah keragaman sudut pandang berita yang kami dapatkan dari melisensi berita-berita dari media lainnya dan dikumpulkan di website/portal berita kami. Selain itu kamipun selain menjadikan kanal-kanal social media kami sebagai perpanjangan tangan dari berita-berita, kami juga pada saat itu menjadikannya sebagai media untuk membangun loyalitas dengan cara memberikan image bahwa dibelakang setiap akun-akun resmi Yahoo! ada manusia yang bisa berkomunikasi layaknya manusia biasa (bukan robot pendistribusi berita), sehingga konsekuensinya tidak hanya berita-berita yang kami distribusikan namun juga obrolan-obrolan ringan, trivia, sampai dengan diskusi-diskusi berbasis artikel yang ada pada Yahoo!. Cara ini ternyata ampuh untuk menaikkan returning visitor yang tidak hanya berkunjung tapi memberikan komen dan ikutan berdiskusi.
Diawal Agustus 2012, pada saat saya diminta untuk membantu membenahi pengelolaan social media di The Jakarta Post Digital, saya pun menerapkan pendekatan yang sama seperti yang kami lakukan di Yahoo!. Walaupun masih baru tapi perubahan sudah mulai terlihat. Jika Anda mengunjungi Facebook Pagenya The Jakarta Post Digital maka jumlah komen yang masuk serta jumlah "like" juga sudah mulai naik prosentasenya.
Bagi media besar seperti The Jakarta Post tentunya memiliki standard yang cukup tinggi sehingga diawal-awal pada masa percobaan banyak kritik-kritik pedas sampai dengan cercaan yang juga saya terima ketika ada hal-hal yang kurang cocok bagi para pembaca maupun jurnalis yang bekerja di sana. Ya itu adalah proses, dan jika Anda lihat screen capture dibawah ini sebagai contoh yang saya ambil dari salah satu status wall yang ada di Facebook Page nya The Jakarta Post Digital maka Anda bisa lihat bagaimana para pembaca merespons ajakan berinteraksi yang dimulai dari pengelola social media The Jakarta Post.
Steve Krug dalam bukunya yang berjudul Don't Make Me Think menjelaskan betapa pengguna web cenderung melakukan hal-hal dengan lancar di internet jika tidak ditambahi beban pada saat melakukannya. Ini yang menyebabkan orang banyak merespons hal-hal remeh-temeh, komen-komen yang kelihatannya tidak penting dibandingkan terjun langsung untuk berdiskusi. Namun dilain pihak sebagai entry-point untuk masuk ke nilai-nilai engagement yang lebih dalam obrolan ringan ini memiliki kekuatan yang seringkali dianggap remeh. Banyak yang lupa bahwa social media bisa sedemikian populernya di negara kita karena bangsa kita suka sekali ngobrol, sehingga media-media yang bisa memfasilitasi aktivitas ngobrol tersebut akan punya kans jadi populer. Ingat ngobrol adalah entry-point dari aktivitas yang lebih serius, diskusi. Dengan ngobrol kita bisa lebih mengenal satu sama lain sebelum akhirnya naik ke level diskusi.

No comments:
Post a Comment